Kelebihan dan Kekurangan UV Sanitizer

Kelebihan dan Kekurangan UV Sanitizer

Alat sanitasi berbasis sinar ultraviolet memiliki tingkat adopsi yang lebih rendah di Indonesia. Padahal, solusi ini adalah yang terbukti secara medis paling efektif untuk meminimalkan risiko penularan pada tempat-tempat rawan kontak (high contact surface area). Mungkinkah kekurangan dari solusi ini dinilai lebih berarti daripada kelebihannya? Mari kita bahas satu persatu-satu.

Kelebihan UV Sanitizer

Tingkat Realibilitas Tertinggi untuk Membersihkan Mikroorganisme

Solusi yang umumnya diterapkan saat ini fokus pada pengubahan kebiasaan ketimbang fokus pada masalah kebersihan. Sensor touchless, tombol kaki, maupun hand sanitizer memaksa masyarakat untuk mengubah kebiasaan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, namun justru mengabaikan tingkat kebersihan di area-area yang perlu perhatian khusus.

UV sanitizer fokus pada inti permasalahan di pandemi: membersihkan area-area yang menjadi risiko penyebaran virus. Efektifitas hand sanitizer bergantung pada banyak faktor seperti kadar alkohol dan penggunaan yang merata, namun UV sanitizer didesain untuk mengeluarkan hasil yang konsisten tanpa bergantung pada pengguna. Lampu UV telah didesain untuk mengeluarkan frekuensi yang efektif membunuh mikroorganisme dibawah 5 detik, secara otomatis, tanpa harus memperdulikan faktor acak seperti posisi tangan atau metode penggunaan.

Prinsip Otomasi yang Modern

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak industri yang mengandalkan prinsip otomisasi dalam alur kerja mereka. Dengan mengeliminasi birokrasi dan campur tangan manusia sebanyak mungkin, maka efektifitas kerja pun meningkat.

Sama hal nya dengan prinsip tersebut, UV sanitizer juga didesain untuk menyelesaikan beberapa masalah yang masih muncul, misalnya:

  • Antrian yang muncul karena banyak orang perlu menggunakan hand sanitizer
  • Pengisian ulang hand sanitizer yang harus dilakukan oleh tenaga manusia
  • Pembelian ulang untuk stok hand sanitizer yang hampir habis
  • Ketidaksadaran orang yang menolak atau menghindar untuk menggunakan hand sanitizer

Prinsip kerja UV sanitizer tidak membutuhkan intervensi atau kesadaran dari pengguna sama sekali. Sekalipun ada yang menolak, alat UV tetap bekerja secara konsisten membersihkan area yang rawan disentuh, tanpa mengganggu aktifitas orang sama sekali. UV sanitizer juga tidak membutuhkan perawatan rutin berkala sehingga meringankan beban tugas karyawan anda. Tidak perlu ada kegiatan isi ulang, pembersihan, ataupun pembelian berkala.

Mekanisme Plug and Play

Pemasangan UV sanitizer tidak membutuhkan kegiatan pembongkaran apapun, sehingga menghemat biaya dan tenaga. Berbeda dengan solusi lain yang memerlukan teknisi ahli untuk dipasang, UV sanitizer hanya tinggal ditempel menggunakan perekat industrial di tempat yang diinginkan. Prinsip ‘plug and play’ ini bisa dilakukan oleh siapapun tanpa membutuhkan pengetahuan teknis, sehingga bisa juga diterapkan di lingkungan tempat tinggal.

UV sanitizer juga bisa dilepas atau dipindahkan kapan saja, tidak seperti solusi lain yang bersifat semi-permanen. Pemindahan dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan melepas perekat, menggantinya dengan yang baru, lalu siap dipasang kembali.

Kekurangan UV Sanitizer

Investasi Lebih Tinggi

Ada harga ada barang, begitulah salah satu prinsip ekonomi yang sulit terpatahkan. UV sanitizer masih menjadi solusi yang cukup premium karena komponennya tidak tersedia dalam jumlah banyak, serta cukup rumit diproduksi dalam jumlah massal. Produksi massal masih sulit dilakukan karena setiap alat perlu di kalibrasi dan di tes satu persatu demi mempertahankan konsistensi performa yang dijanjikan.

Jadi, wajar saja bila harga yang harus dibayarkan untuk UV sanitizer bisa lebih mahal daripada solusi lainnya.

Penggunaan yang Salah Bisa Berbahaya

Tidak bisa dipungkiri bahwa sinar ultraviolet memiliki efek negatif bukan hanya bagi mikroorganisme, namun juga manusia. Bahkan sudah ada kasus viral dimana orang menceritakan bahwa pekerja di kantor mereka mual-mual setelah lampu ultraviolet dipasang di luar kerja mereka. Cerita viral lainnya dari seorang ibu bercerita bahwa seluruh anggota keluarganya masuk rumah sakit setelah mereka membeli dan memasang lampu ultraviolet dari sebuah merk ternama.

Cara kerja sinar ultraviolet adalah dengan membunuh sel makhluk hidup, dan kita sebagai manusia pun terdiri dari banyak sel yang membentuk satu kesatuan. Oleh karena itu, penggunaan sinar ultraviolet harus benar dan jangan sampai membahayakan diri kita. UV sanitizer yang baik memiliki fungsi keamanan yang bersifat otomatis dan efektif, misalnya sensor jarak yang akan mematikan lampu ketika mendeteksi ada tangan yang mendekati.

Memiliki Umur Penggunaan Terbatas

Sama seperti teknologi yang kita gunakan sehari-hari, lampu ultraviolet pun memiliki masa kelangsungan optimal untuk menjalankan fungsi maksimalnya. Kebanyakan lampu bisa beroperasi efektif selama 2 sampai 3 tahun dengan pemakaian normal. Setelah itu, ada baiknya melakukan penggantian unit lampu untuk tetap menjaga performa maksimal.

Sekalipun demikian, satu unit lampu ultraviolet yang berfungsi selama 2 tahun penuh sudah bisa memberikan penghematan banyak bagi penggunanya karena mengeliminasi keperluan pembelian dan penggunaan cairan pembersih, baik yang digunakan untuk tangan maupun permukaan benda.

Tentang Yuvi

Yuvi memaksimalkan kelebihan dari teknologi sinar ultraviolet dan meminimalkan kekurangannya. Setiap unit YUVI dilengkapi dengan sensor jarak yang otomatis akan mematikan lampu bila mendeteksi gerakan dalam jarak dekat, sehingga tidak berbahaya bagi kulit manusia.

Ukuran YUVI sangat bisa di sesuaikan sesuai dengan tempat pemasangan, mulai dari 20 cm sampai dengan 80 cm (sisi terpanjang), dan bisa menggunakan tenaga baterai maupun listrik untuk menyesuaikan kebutuhan.

Membandingkan Kelebihan dan Kekurangan Solusi New Normal

Membandingkan Kelebihan dan Kekurangan Solusi New Normal

Berbagai industri melakukan yang terbaik untuk bertahan di era new normal, dan beberapa lainnya berinovasi bukan hanya untuk menyelamatkan diri mereka, namun juga membantu industri lainnya. 

Inovasi paling banyak dilakukan di fasilitas publik yang memiliki banyak kontak fisik manusia (high contact area). Dan meskipun tidak ada yang sempurna, semua memiliki kelebihan dan kekurangan yang patut dipertimbangkan. 

Hand Sanitizer 

Solusi paling mendasar tentunya dengan menyediakan hand sanitizer di dekat area yang rawan kontak tersebut, namun tentunya hand sanitizer ini tidak memiliki unsur paksaan (enforcement) untuk digunakan oleh pengguna, sehingga pada akhirnya hadir beberapa inovasi yang memiliki sifat otomatis dan ‘memaksa’. Selain itu, hand sanitizer juga berdampak pada kenyamanan pengguna, apalagi bila harus mengantri dulu ketika mau menggunakan. Hand sanitizer juga tidak memiliki unsur ‘automation’ yang diinginkan perusahaan modern, karena jumlahnya harus terus dipantau, lalu dibeli lagi, diisi ulang manual menggunakan tenaga manusia sehingga sangat merepotkan dan tidak efisien. 

Perlu diingat juga bahwa penggunaan hand sanitizer harus dilakukan dengan benar, yakni dengan komponen alkohol minimal 70% serta penggunaan yang merata ke seluruh tangan. Apabila tidak dilakukan dengan benar, maka risiko penularan tetap ada. 

 
Sensor Touchless 

Solusi ini paling umum digunakan di lift dan mesin yang sifatnya mengeluarkan tiket, misalnya tiket parkir. Sejauh ini, adopsi solusi inilah yang paling ramai digunakan, karena cukup mengganti tombol konvensional dengan sensor ini. 

Kelebihan dari solusi ini adalah aspek intuitif bagi pengguna. Tidak perlu ada yang perlu dipelajari, karena hanya cara mengoperasikan tombolnya saja yang berubah, sebelumnya ditekan, lalu menjadi cukup dihampiri saja. Posisinya sama, fungsinya tetap sama.  

Sedangkan untuk kekurangannya ada beberapa. Yang pertama adalah kalibrasi sensitifitas. Terkadang kalibrasi ini kurang sensitif sehingga akhirnya pengguna tidak sengaja melakukan kontak fisik pada sensor sehingga menjadi risiko penularan, dan di lain waktu mungkin malah terlalu sensitif, sehingga pengguna yang hanya ingin sengaktifkan satu tombol malah bisa berakhir menekan beberapa tombol sekaligus. Masalah ini paling sering terjadi bila solusi ini diterapkan di lift yang memiliki banyak lantai sehingga memerlukan banyak tombol. Jarak antar tombol yang terlalu sempit akan mengganggu akurasi sensitifitas sensor. 

Kekurangan lainnya adalah proses penggantian tombol yang tidak sederhana. Diperlukan pembongkaran kecil dan pemutusan-penyambungan kabel untuk bisa menerapkan solusi ini. Ketika suatu hari nanti solusi ini akan berhenti digunakan, maka diperlukan pembongkaran ulang untuk kembali menggunakan tombol konvensional. 

Tombol Kaki  

Solusi ini masih jarang digunakan, namun masih bisa ditemui di lift Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Solusi ini dinilai lebih meminimalkan risiko penularan daripada sensor touchless, karena pengoperasian tombol sepenuhnya menggunakan kaki posisinya sangat jauh dari wajah. 

Namun solusi ini memiliki lebih banyak kekurangan lagi. Pertama, proses pemasangannya lebih rumit daripada sensor touchless, karena harus melakukan penyambungan kabel. Kedua, solusi ini memakan ruang fisik cukup besar didalam lift, sehingga kapasitas lift semakin kecil lagi setelah harus mempertimbangkan protokol kesehatan. Dan kekurangan yang terakhir adalah banyak orang yang menilai solusi ini tidak intuitif karena perlu mencocokkan tombol kaki mana yang merepresentasikan lantai yang ingin dituju. 

Selain itu, solusi ini juga tidak ideal untuk lift yang memiliki banyak tombol, karena akan banyak sekali tombol kaki yang perlu dipasang untuk setiap lantai. Selain menjadikan tombol sulit dicari, pengguna lift harus mengganggu pengguna lainnya untuk menekan tombol yang ingin dituju.   

Alat Sanitasi Berbasis Sinar 

Solusi ini sebenarnya yang secara medis paling terbukti untuk meminimalkan risiko penularan, namun justru adopsinya paling rendah. Padahal, pemasangan solusi ini tidak membutuhkan pembongkaran atau penggantian komponen apapun. Asal ada sumber daya berupa listrik atau baterai, solusi ini bisa dipasang dimana saja.  Solusi ini juga memiliki utilitas yang lebih tinggi karena tidak terbatas hanya untuk lift atau mesin tiket saja, namun juga bisa digunakan oleh  konsumen umum di rumah atau kantor mereka, misalnya dipasang untuk gagang pintu, diatas tombol dispenser, atau diatas tempat menaruh remot jarak jauh. 

Kekurangannya adalah dari segi investasi di awal. Karena teknologi ini tidak umum digunakan, maka produksinya juga belum massal sehingga harganya masih tergolong premium. Selain itu, sinar ultraviolet yang menjadi komponen solusi ini juga berbahaya bila terkena kulit manusia terlalu lama, sehingga solusi yang menggunakan metode ini wajib memasang fitur keamanan seperti sensor deteksi agar mematikan lampu bila mendeteksi kontak.  

Sama seperti hand sanitizer, sinar ultraviolet pun membutuhkan beberapa detik untuk efektif membunuh mikroorganisme, namun durasinya sangat singkat yaitu dibawah 5 detik.  

Tentang YUVI

YUVI adalah solusi sanitasi dari PT S2I yang memanfaatkan teknologi sinar ultraviolet. PT S2I yakin bahwa solusi ultraviolet akan menjadi pilihan terbaik dalam 1 sampai 2 tahun kedepan untuk menghadapi kondisi paska pandemi yang berkelanjutan.

Tantangan Adopsi Kios untuk Hotel

Tantangan Adopsi Kios untuk Hotel

Kiosk Self Check In diharapkan membantu hotel lebih sigap menghadapi new normal, dengan cara menekan biaya rutin, memotong komisi untuk aggregator, serta mempermudah manajemen karyawan.

Kendati demikian, adopsi atas inovasi ini tergolong sangat lambat di industry perhotelan, berbeda dengan industry penerbangan yang sama-sama berhubungan dengan turisme dan perjalanan.

Ada beberapa alasan industri perhotelan sulit mengadopsi penggunaan Kiosk Self Check In

Masih Dibutuhkan Interaksi Manusia

Tidak dapat dipungkiri bahwa industri hospitality, sesuai namanya, memang harus menyediakan hospitality kepada tamu, dengan senyuman, keramahan, dan pelayanan.

Namun seiring berjalannya waktu, generasi milenial lebih mengutamakan automasi dan kenyamanan untuk melakukan seluruh proses secara independent.

Pandemi COVID-19 juga mengakselerasi habit milenial ini ke generasi yang lebih tua, dimana generasi x dan baby boomer menghindari interaksi manusia untuk mengurangi risiko Kesehatan.

Selain itu, Kiosk Self Check in tidak pernah ditujukan untuk menghilangkan aspek kemanusiaan pada sebuah hotel, melainkan justru memberikan kesempatan bagi para staf hotel untuk memaksimalkan pelayanan kepada tamu dalam hal yang lebih penting, seperti penjamuan, pengantaran, dan komunikasi. Kiosk Self Check In hanya justru membebaskan staf hotel dari pekerjaan administratif yang tidak memberikan added value dari staf kepada tamu.

Khawatir Akan Pengalaman Tamu Yang Buruk

Kecanggihan teknologi seringkali hadir dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Manusia secara natural tidak suka akan perubahan, dan mempelajari sesuatu yang baru tentu memakan waktu. Hal ini terjadi beberapa kali di Indonesia, misalnya saat transisi dari penggunaan ponsel pintar Blackberry ke iPhone dan Android, atau ketik elektronifikasi jalan tol  mulai diwajibkan seluruh Indonesia.

Tampilan antarmuka (user interface) maupun pengalaman pengguna (user experience) memainkan peran penting agar teknologi mudah dipelajari, lalu diadopsi, oleh banyak pengguna. Terlebih lagi bila teknologi ini memiliki unsur kecepatan waktu (time sensitivity) dan harus memiliki realibilitas yang meminimalkan kesalahan sistem.

Semua aspek tersebut harus dihadirkan dalam mesin self check in agar tamu tidak takut mencoba penggunaan layanan swaservis. Dimulai dari tampilan layar utama yang harus sederhana, dengan sedikit tombol dan alur yang intuitif. Informasi yang ditampilkan hendaknya fokus pada proses yang sedang berjalan, sehingga pengguna paham akan ‘perjalanan’ mereka dalam system tersebut.

Menghindari Masalah Teknis yang Mungkin Muncul

Teknologi, secanggih apapun dan sehebat apapun penciptanya, pasti akan mengalami masalah kecil di suatu waktu. Masalah ini bisa muncul dari sisi perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Hardware memiliki umur (lifetime value) yang akan menurunkan realibilitas seiring berjalannya waktu. Sedangkan software kerap kali memilliki bug terselubung yang baru ditemukan di saat krusial.

Penting menyediakan tenaga ahli yang siap terjun 24 jam kapanpun masalah muncul, sehingga hotel bisa mendapatkan bantuan secepat mungkin apabila tamu menghadapi masalah teknis Ketika menggunakan layanan mandiri (self check in)

Tidak semua masalah juga bisa diselesaikan dari jarak jauh (remote), sehingga penting bagi penyedia mesin self check in untuk menyediakan cakupan (coverage) yang luas dari tenaga teknis lapangan.

Self-Q dari S2i

S2i telah puluhan tahun melayani kebutuhan teknologi untuk berbagai industri, sehingga memahami jelas bagaimana menciptakan inovasi yang mudah diadopsi dan menyelesaikan masalah. Self-Q adalah solusi terbaru dari S2i yang ditargetkan untuk industri perhotelan. Dengan jaringan teknisi seluruh Indonesia yang bekerja tanpa henti, klien kami tidak perlu khawatir untuk mendapatkan dukungan teknis kapanpun dibutuhkan.

Theme: Overlay by Kaira