Blog Insight

selfq-blog

Tantangan Adopsi KiosK Untuk Hotel

Kiosk Self Check In diharapkan membantu hotel lebih sigap menghadapi new normal, dengan cara menekan biaya rutin, memotong komisi untuk aggregator, serta mempermudah manajemen karyawan.

Kendati demikian, adopsi atas inovasi ini tergolong sangat lambat di industry perhotelan, berbeda dengan industry penerbangan yang sama-sama berhubungan dengan turisme dan perjalanan.

Ada beberapa alasan industri perhotelan sulit mengadopsi penggunaan Kiosk Self Check In

Masih Dibutuhkan Interaksi Manusia
Tidak dapat dipungkiri bahwa industri hospitality, sesuai namanya, memang harus menyediakan hospitality kepada tamu, dengan senyuman, keramahan, dan pelayanan.

Namun seiring berjalannya waktu, generasi milenial lebih mengutamakan automasi dan kenyamanan untuk melakukan seluruh proses secara independent.

Pandemi COVID-19 juga mengakselerasi habit milenial ini ke generasi yang lebih tua, dimana generasi x dan baby boomer menghindari interaksi manusia untuk mengurangi risiko Kesehatan.

Selain itu, Kiosk Self Check in tidak pernah ditujukan untuk menghilangkan aspek kemanusiaan pada sebuah hotel, melainkan justru memberikan kesempatan bagi para staf hotel untuk memaksimalkan pelayanan kepada tamu dalam hal yang lebih penting, seperti penjamuan, pengantaran, dan komunikasi. Kiosk Self Check In hanya justru membebaskan staf hotel dari pekerjaan administratif yang tidak memberikan added value dari staf kepada tamu.

Khawatir Akan Pengalaman Tamu Yang Buruk
Kecanggihan teknologi seringkali hadir dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Manusia secara natural tidak suka akan perubahan, dan mempelajari sesuatu yang baru tentu memakan waktu. Hal ini terjadi beberapa kali di Indonesia, misalnya saat transisi dari penggunaan ponsel pintar Blackberry ke iPhone dan Android, atau ketik elektronifikasi jalan tol mulai diwajibkan seluruh Indonesia.

Tampilan antarmuka (user interface) maupun pengalaman pengguna (user experience) memainkan peran penting agar teknologi mudah dipelajari, lalu diadopsi, oleh banyak pengguna. Terlebih lagi bila teknologi ini memiliki unsur kecepatan waktu (time sensitivity) dan harus memiliki realibilitas yang meminimalkan kesalahan sistem.

Semua aspek tersebut harus dihadirkan dalam mesin self check in agar tamu tidak takut mencoba penggunaan layanan swaservis. Dimulai dari tampilan layar utama yang harus sederhana, dengan sedikit tombol dan alur yang intuitif. Informasi yang ditampilkan hendaknya fokus pada proses yang sedang berjalan, sehingga pengguna paham akan ‘perjalanan’ mereka dalam system tersebut.

Menghindari Masalah Teknis yang Mungkin Muncul
Teknologi, secanggih apapun dan sehebat apapun penciptanya, pasti akan mengalami masalah kecil di suatu waktu. Masalah ini bisa muncul dari sisi perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Hardware memiliki umur (lifetime value) yang akan menurunkan realibilitas seiring berjalannya waktu. Sedangkan software kerap kali memilliki bug terselubung yang baru ditemukan di saat krusial.

Penting menyediakan tenaga ahli yang siap terjun 24 jam kapanpun masalah muncul, sehingga hotel bisa mendapatkan bantuan secepat mungkin apabila tamu menghadapi masalah teknis Ketika menggunakan layanan mandiri (self check in)

Tidak semua masalah juga bisa diselesaikan dari jarak jauh (remote), sehingga penting bagi penyedia mesin self check in untuk menyediakan cakupan (coverage) yang luas dari tenaga teknis lapangan.

Self-Q dari S2i
S2i telah puluhan tahun melayani kebutuhan teknologi untuk berbagai industri, sehingga memahami jelas bagaimana menciptakan inovasi yang mudah diadopsi dan menyelesaikan masalah. Self-Q adalah solusi terbaru dari S2i yang ditargetkan untuk industri perhotelan. Dengan jaringan teknisi seluruh Indonesia yang bekerja tanpa henti, klien kami tidak perlu khawatir untuk mendapatkan dukungan teknis kapanpun dibutuhkan.

CATEGORIES
ARCHIVES

TAGS

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on google